SEBUAH kain menutupi mata seorang perempuan yang berdiri tegak dengan timbangan di satu tangan dan pedang di tangan lainnya. Sosok itu dikenal sebagai Dewi Keadilan, Themis, atau Lady Justice. Selama berabad-abad, figur ini menjadi lambang hukum dan pengadilan di berbagai belahan dunia. Namun, ada satu bagian dari penggambarannya yang menyimpan perjalanan makna menarik yaitu penutup mata.
Mengapa keadilan harus digambarkan dengan mata tertutup? Bukankah tugas pengadilan justru melihat, memeriksa, dan menemukan kebenaran?
Bagaimana mungkin sebuah simbol yang semula menggambarkan kebutaan atau ketidakmampuan menilai, tapi malah kemudian berubah menjadi lambang ketidakberpihakan?
Baca Juga: Mata Dewi Keadilan: Dulu Dibiarkan Terbuka, Kini Ditutup Kain
Semiotika Mata Dewi Keadilan
Dalam perspektif semiotika, sebuah simbol tidak selalu memiliki arti yang tetap. Maknanya dapat berubah mengikuti sejarah, kebudayaan, dan cara masyarakat menafsirkannya. Sebagaimana dikutip DANDAPALA, Senin (2/11/2026), Ferdinand de Saussure, salah satu tokoh penting semiotika, menjelaskan bahwa tanda terdiri atas dua unsur signifier(penanda) dan signified (petanda). Saussure menggunakan istilah signifier dan signified untuk membedakan bentuk tanda dengan konsep yang diwakilinya (Course in General Linguistics, 1959, hlm. 67).
Jika kerangka ini diterapkan pada figur Dewi Keadilan, maka kain yang menutupi mata merupakan penanda. Adapun konsep yang dilekatkan kepadanya sebagai petanda dapat berbeda-beda. Pada suatu masa, penutup mata dapat dimaknai sebagai kebutaan, ketidakmampuan melihat kebenaran, atau bahkan ketidakberdayaan hukum. Pada masa dan konteks yang lain, tanda yang sama justru dimaknai sebagai sikap tidak memihak.

Awalnya Penutup Mata Sebuah Sindiran
Berdasarkan literatur yang ditelusuri DANDAPALA, penutup mata bukan atribut asli Dewi Keadilan dalam tradisi Yunani dan Romawi kuno. Figur Themis, Dike, maupun Justitia pada umumnya digambarkan dengan mata terbuka. Mereka membawa timbangan dan pedang. Penutup mata baru muncul dalam tradisi ikonografi Eropa pada periode belakangan.
Salah satu gambaran awal yang terkenal dapat ditemukan dalam tradisi ilustrasi buku Das Narrenschiff atau The Ship of Fools karya Sebastian Brant, yang pertama kali diterbitkan pada 1494. Dalam salah satu ilustrasinya, seorang badut atau orang bodoh memasangkan kain penutup pada mata Justitia.
Adegan itu bukan dimaksudkan untuk memuliakan keadilan. Sebaliknya, ia merupakan sindiran. Justitia digambarkan sedang dibutakan oleh kebodohan, ketidaktahuan, dan praktik pengadilan yang tidak jujur.
Sejarawan hukum dan seni, Valérie Hayaert, menjelaskan bahwa penutup mata tersebut pada mulanya dimaksudkan untuk menunjukkan ketiadaan kemampuan menilai dan mengkritik ketidaktahuan serta ketidakjujuran pengadilan. Ia menulis bahwa:
“Penutup mata itu dimaksudkan untuk menggambarkan an absence of judgment.” Demikian penjelasan Hayaert pada halaman 212.
Dalam konteks ini, penutup mata merupakan tanda yang bermakna negatif. Keadilan tidak sedang menunjukkan sikap netral, melainkan sedang kehilangan kemampuan untuk melihat dan menilai.
Bahkan, dalam ilustrasi Brant, Justitia tidak menutup matanya sendiri. Ada sosok orang bodoh yang memasangkan penutup mata itu kepadanya. Detail tersebut penting yaitu kebutaan keadilan digambarkan sebagai sesuatu yang dilakukan oleh pihak luar, bukan sebagai pilihan luhur dari keadilan itu sendiri.
Karena itu, pembaca pada masa tersebut diharapkan memahami gambar itu sebagai kritik. Hayaert menyebut bahwa Brant menghendaki pembacanya untuk melepaskan penutup mata Justitia dan mengembalikan pandangannya yang tajam.
Dari Kebutaan Menjadi Imparsialitas
Perjalanan makna penutup mata tidak berhenti pada gambaran satiris tersebut. Dalam perkembangan ikonografi Eropa, terutama sejak abad ke-16 dan seterusnya, penutup mata mulai memperoleh penafsiran yang berbeda. Ia perlahan-lahan dikaitkan dengan gagasan bahwa hakim harus mengambil keputusan tanpa dipengaruhi oleh kekayaan, kedudukan, hubungan pribadi, maupun kepentingan pihak yang berperkara.
Salah satu rujukan penting dalam perkembangan ikonografi tersebut adalah Iconologia karya Cesare Ripa. Buku ini pertama kali diterbitkan di Roma pada 1593 tanpa ilustrasi. Edisi bergambarnya baru muncul pada 1603. Dalam edisi Padua 1611, terdapat uraian mengenai sosok Justitia dengan mata tertutup.
Dalam penjelasannya, Ripa menghubungkan pakaian putih dan penutup mata Justitia dengan keharusan hakim untuk bebas dari “personal interest or of any other passion that might pervert Justice” (hakim tidak boleh membiarkan kepentingan pribadi maupun hasrat lain membelokkan keadilan).
Penjelasan tersebut memperlihatkan perubahan cara membaca simbol. Penutup mata tidak lagi semata-mata menunjukkan bahwa keadilan kehilangan kemampuan melihat. Ia mulai dimaknai sebagai pengingat agar hakim tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak semestinya menjadi dasar penilaian.
Namun, penting dicatat bahwa perubahan ini tidak berlangsung dalam satu waktu atau hanya disebabkan oleh satu karya. Ia merupakan bagian dari perkembangan tradisi ikonografi dan pemikiran mengenai keadilan di Eropa.
Pergeseran Makna
Perubahan makna penutup mata dapat dijelaskan lebih jauh melalui pemikiran Roland Barthes. Dalam semiotika Barthes, sebuah tanda tidak hanya memiliki makna denotatif, tetapi juga dapat membentuk makna konotatif dan mitos.
Secara denotatif, penutup mata pada figur Justitia adalah kain yang menutupi kedua matanya. Akan tetapi, pada tingkat konotasi, kain tersebut dapat menghadirkan makna yang berbeda yaitu kebutaan, ketidakmampuan menilai, ketidakadilan, atau justru ketidakberpihakan.
Ketika masyarakat berulang kali melihat penutup mata sebagai lambang imparsialitas, makna itu kemudian diterima sebagai sesuatu yang wajar dan alamiah. Dalam istilah Barthes, proses semacam ini berkaitan dengan pembentukan mitos. Mitos di sini bukan berarti cerita bohong, melainkan cara suatu nilai budaya disajikan seolah-olah merupakan makna yang sudah sewajarnya melekat pada sebuah tanda.
Di sinilah menariknya simbol Dewi Keadilan. Penutup mata yang dahulu dapat dibaca sebagai tanda kebutaan, kemudian diterima sebagai lambang ketidakberpihakan. Jika menggunakan istilah dalam kajian perubahan makna bahasa, pergeseran ini dapat dianalogikan dengan ameliorasi, yakni perubahan konotasi ke arah yang lebih positif.
Sebaliknya, makna awalnya dapat dianalogikan dengan peyorasi, yaitu kecenderungan makna ke arah negatif. Tentu, istilah tersebut digunakan sebagai analogi karena objek yang dibahas adalah simbol visual, bukan perubahan makna sebuah kata.
Dengan demikian, perubahan makna penutup mata tidak terjadi karena bentuk simbolnya berubah, melainkan karena masyarakat menggunakan kode budaya yang berbeda untuk membacanya.

Dewi Keadilan Saat Ini
Baca Juga: Eksekusi Crypto Wallet untuk Mengakses Mata Uang Kripto
Pada akhirnya, perjalanan penutup mata Dewi Keadilan memperlihatkan bahwa sebuah simbol tidak pernah sepenuhnya terlepas dari zaman yang menafsirkannya. Dahulu, kain yang menutupi mata Justitia merupakan sindiran terhadap keadilan yang dibutakan oleh kebodohan dan ketidakjujuran. Kemudian, ia berkembang menjadi lambang bahwa keadilan tidak boleh tunduk pada kepentingan pribadi.
Namun, ada satu pesan yang tidak boleh hilang dalam perubahan makna itu yaitu keadilan memang tidak boleh memihak, tetapi ia harus tetap mampu melihat.
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI