KITA sering melihat sosok Dewi Keadilan dengan mata tertutup sehelai kain. Di gedung pengadilan, ruang sidang, hingga buku-buku hukum, gambaran itu seolah menjadi simbol universal yaitu hukum tidak boleh memihak. Siapa pun orangnya, apa pun jabatan dan kekayaannya, harus diperlakukan sama di hadapan hukum.
Namun, benarkah sejak awal Dewi Keadilan selalu digambarkan dengan mata tertutup?
Ternyata tidak.
Baca Juga: Mata Dewi Keadilan Ditutup Kain: Dulu Bermakna Negatif, Kini Jadi Positif
Dalam tradisi Yunani dan Romawi kuno, figur Themis dan Justitia pada umumnya digambarkan dengan mata terbuka. Timbangan dan pedang menjadi atribut yang lebih dahulu dikenal sebagai simbol keadilan. Timbangan melambangkan keseimbangan dalam mempertimbangkan perkara, sedangkan pedang menggambarkan kekuatan untuk menegakkan hukum.
Kain penutup mata justru muncul jauh kemudian dalam sejarah seni Eropa. Sebagaimana dikutip DANDAPALA, Senin (2/11/2026), Valérie Hayaert, dalam tulisannya “The Paradoxes of Lady Justice’s Blindfold” (2018), menjelaskan bahwa salah satu penggambaran awal penutup mata muncul pada 1494 di Jerman, melalui ilustrasi dalam edisi pertama The Ship of Fools karya Sebastian Brant. Hayaert menulis:
“The idea of placing a blindfold around her eyes arose only in 1494, in Germany, when in the first edition of The Ship of Fools by the lawyer Sebastian Brant, a woodcut showed a jester tying the eyes of Justitia with a blindfold. The blindfold was intended to imply an absence of judgment, and was originally meant to mock justice and criticise the ignorance and dishonesty of the courts.” (hlm. 212)
Dengan kata lain, penutup mata itu pada mulanya bukan lambang ketidakberpihakan. Justru sebaliknya, ia merupakan sindiran terhadap keadilan yang dibutakan, kehilangan pertimbangan, serta pengadilan yang tidak mampu menjalankan tugasnya secara jujur.
Hayaert bahkan memberikan penjelasan yang lebih menarik:
“Brant expects his readers to remove Lady Justice’s blindfold and restore her penetrating gaze.” (hlm. 212)
Brant mengharapkan pembacanya melepaskan penutup mata Dewi Keadilan dan mengembalikan tatapannya yang tajam. Pesan ini menarik yaitu keadilan seharusnya melihat, bukan dibutakan oleh kebodohan manusia.

Seiring waktu, makna penutup mata mengalami perubahan. Simbol yang semula bernada sindiran kemudian berkembang menjadi lambang ketidakberpihakan. Keadilan tidak boleh silau oleh kekuasaan, kekayaan, jabatan, ataupun pengaruh seseorang.
Lalu, bagaimana dengan Dewi Keadilan yang matanya terbuka, seperti patung di kawasan Römerberg, Frankfurt, Jerman?
Mata terbuka tidak serta-merta berarti keadilan sedang berpihak. Sebaliknya, mata terbuka dapat dimaknai sebagai kesediaan untuk melihat kenyataan, memeriksa fakta, dan menemukan kebenaran. Tentu, makna sebuah patung juga harus dilihat dari konteks sejarah dan maksud pembuatannya.
Dalam praktik peradilan, persoalan ini menjadi relevan. Hakim justru wajib melihat dan mendengar. Ia harus memeriksa alat bukti, mendengarkan keterangan saksi, menguji pendapat ahli, serta mempertimbangkan seluruh fakta yang terungkap di persidangan. Hakim tidak boleh menutup mata terhadap fakta, apalagi mengabaikan kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan dugaan awalnya.
Barangkali, di sinilah letak persoalan sesungguhnya. Keadilan memang tidak boleh berpihak, tetapi bukan berarti harus buta terhadap kenyataan. Yang harus dihindari hakim bukanlah penglihatan, melainkan prasangka. Ia harus mampu melihat perkara secara jernih tanpa terpengaruh oleh siapa yang sedang diadili.
Maka, Dewi Keadilan dengan mata tertutup maupun terbuka sama-sama dapat menyampaikan pesan penting. Yang satu mengingatkan agar hukum tidak membeda-bedakan manusia; yang lain mengingatkan agar hukum tidak kehilangan keberanian untuk melihat kebenaran.
Baca Juga: Eksekusi Crypto Wallet untuk Mengakses Mata Uang Kripto
Nah, kalau pembaca DANDAPALA setuju yang mana?
Apakah mata Dewi Keadilan perlu ditutup atau malah harus dibiarkan terbuka biar bisa melihat kenyataan?
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI