Kulon Progo, Yogyakarta – Pengadilan Negeri (PN) Wates mengangkat praktik baik pembangunan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) melalui Podcast Kopi Juara. Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman lintas lingkungan peradilan dalam membangun budaya kerja yang berintegritas sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga peradilan.
Podcast tersebut menghadirkan Ketua PN Wates Dr. Supandriyo, Kepala Pengadilan Militer II-09 Yogyakarta Kolonel Kum Jonarku, serta Ketua Pengadilan Agama Bantul Septianah.
Kehadiran pimpinan dari tiga lingkungan peradilan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan integritas merupakan tanggung jawab bersama, meskipun masing-masing satuan kerja memiliki karakter organisasi dan lingkungan kerja yang berbeda.
Baca Juga: Program Baru PN Wates, Podcast KOPI JUARA, Eps. Perdana Hadirkan Akademisi UGM
Sebagai salah satu satuan kerja yang telah meraih predikat SMAP “PARIPURNA”, PN Wates membagikan sejumlah praktik baik, mulai dari penguatan komitmen pimpinan dan aparatur, pemetaan risiko penyuapan, penyusunan langkah pengendalian, peningkatan pengawasan, hingga internalisasi nilai-nilai antikorupsi dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat.
Ketua PN Wates, Dr. Supandriyo menegaskan bahwa predikat yang telah diraih bukanlah akhir dari proses pembangunan SMAP.
“Predikat paripurna bukanlah akhir, tetapi justru menjadi tanggung jawab untuk mempertahankan standar yang sudah dibangun. Yang paling penting adalah bagaimana SMAP ini benar-benar hidup dan diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari,” ujar Supandriyo.
Menurutnya, keberhasilan SMAP tidak cukup diukur dari kelengkapan dokumen maupun terpenuhinya indikator penilaian. Sistem tersebut harus tercermin dalam pola kerja, pengambilan keputusan, penanganan perkara, hingga pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, keteladanan pimpinan dan keterlibatan seluruh aparatur menjadi bagian penting dalam memastikan sistem pencegahan penyuapan berjalan secara substantif.
Diskusi juga mengangkat berbagai tantangan dalam mempertahankan implementasi SMAP, antara lain menjaga konsistensi setelah proses penilaian, mencegah kejenuhan aparatur, memastikan program tidak berhenti pada formalitas, serta mempertahankan komitmen ketika terjadi pergantian pimpinan maupun personel.
Para narasumber berbagi pengalaman mengenai pentingnya evaluasi berkala, pengawasan yang efektif, tindak lanjut terhadap setiap temuan, serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Melalui Kopi Juara, PN Wates mendorong agar praktik baik tidak berhenti di satu satuan kerja. Pengalaman yang telah berhasil diterapkan perlu dibagikan, dipelajari, dan disesuaikan dengan kebutuhan satuan kerja lainnya.
“Praktik baik jangan berhenti di satu satuan kerja. Apa yang sudah berjalan dengan baik perlu dibagikan, dipelajari, kemudian dikembangkan bersama agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” demikian semangat yang mengemuka dalam diskusi Kopi Juara.
Pertemuan tiga lingkungan peradilan tersebut menegaskan bahwa integritas membutuhkan kolaborasi dan konsistensi. Menjaga integritas bukan sekadar menjalankan program, tetapi membangun kebiasaan dan budaya kerja yang terus dipelihara.
Baca Juga: Kampung Hukum 2025: Kenalkan Oki, Pralan MA yang Jago Barista !
Pada akhirnya, kepercayaan masyarakat tidak hanya lahir dari predikat atau penghargaan, tetapi dari kesesuaian antara nilai yang disampaikan dengan perilaku yang ditunjukkan dalam pelayanan sehari-hari.
Melalui Podcast Kopi Juara, PN Wates mendorong SMAP untuk tidak berhenti sebagai instrumen penilaian, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama lintas peradilan dalam mewujudkan lembaga peradilan yang bersih, berintegritas, dan terpercaya. (al)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI