Cari Berita

Makna Kebangkitan Kristus bagi Insan Pengadilan

Yakobus Manu-Wakil Ketua Pengadilan Negeri Singaraja - Dandapala Contributor 2026-04-02 18:00:33
Dok. Penulis.

Perayaan Paskah selalu berbicara tentang kebangkitan Tuhan Yesus Kristus dari kematian, namun kebangkitan-Nya bukan sekadar peristiwa iman yang kita rayakan setiap tahun. Ia adalah titik balik, sebuah undangan untuk berubah, diperbarui, dan menjalani hidup dengan cara yang berbeda.

Tema Paskah yang diangkat oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tahun 2026, “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita,” mengajak kita melihat lebih dalam: apa yang sebenarnya perlu diperbarui dalam diri kita? Bagi kita yang termasuk sebagai aparatur peradilan, hakim, panitera, atau seluruh insan pengadilan, apa maknanya bagi cara kita dalam melayani masyarakat pencari keadilan?

Kebangkitan: Lebih dari Sekadar Perubahan Luar

Baca Juga: Refleksi Natal: Kesederhanaan Sang Imanuel Bersama Kelompok Rentan

Dalam 2 Korintus 5:17 Rasul Paulus menulis sebagai berikut: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Rasul Paulus menegaskan bahwa kebangkitan Kristus melahirkan manusia baru. Bukan sekadar “versi lama yang diperbaiki,” tetapi benar-benar diperbarui dari dalam.

Seringkali kita memahami perubahan secara dangkal. Sistem diperbarui, aplikasi ditingkatkan, prosedur disederhanakan. Namun jika cara berpikir dan sikap hati tidak berubah, maka yang terjadi hanyalah “perubahan kosmetik”. Hal yang sama berlaku dalam dunia peradilan. Digitalisasi, e-court, dan berbagai inovasi teknologi adalah langkah penting. Tetapi jika mentalitas lama, lamban, tidak responsif, atau bahkan tidak berintegritas, yang ternyata masih kita pertahankan, maka keadilan yang diharapkan masyarakat tetap terasa jauh. Sebaliknya, Paskah mengingatkan kita untuk mengalami perubahan yang sejati selalu dimulai dari dalam.

Dari Kubur Menuju Harapan: Makna Bagi Peradilan

Kebangkitan Kristus adalah kemenangan atas kematian, kegelapan, dan keputusasaan. Dalam konteks peradilan, kita bisa melihat “kematian” itu dalam bentuk lain, yakni: ketidakpercayaan publik, proses yang berbelit, dan ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat kecil. Namun dalam 1 Petrus 1:3 Paskah membawa pesan harapan: “Terpujilah Allah… yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.”

Pengharapan ini bukan sesuatu yang abstrak. Ia harus nyata dalam pelayanan kita sehari-hari. Setiap perkara yang kita tangani, setiap putusan yang kita buat, dan setiap layanan yang kita berikan, semuanya dapat menjadi wujud “kebangkitan” bagi masyarakat pencari keadilan. Sebab bagi seseorang yang mencari keadilan, pengadilan bukan hanya sekadar suatu institusi. Ia adalah tempat harapan, dan kita, aparatur peradilan, adalah bagian dari harapan itu.

Transformasi Digital: Alat, Bukan Tujuan

Dalam cetak biru Mahkamah Agung, transformasi digital adalah salah satu bagian penting dari upaya untuk mewujudkan peradilan yang agung. Ini adalah langkah besar dan patut diapresiasi. Namun penting untuk diingat: teknologi hanyalah alat.

Tanpa hati yang diperbarui, maka teknologi dapat menjadi sekadar formalitas, bahkan alat baru untuk mempertahankan kebiasaan lama. Sebaliknya, dengan hati yang benar, teknologi bisa menjadi sarana untuk mempercepat pelayanan, membuka akses keadilan dan mengurangi potensi penyimpangan.

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan dalam Matius 5:14,16, bahwa “Kamu adalah terang dunia… Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik…” Dalam konteks peradilan modern, “terang” itu bisa hadir dalam bentuk pelayanan yang cepat, transparan, dan adil. Sistem digital yang baik adalah salah satu cara agar terang surgawi bersinar, dan sumbernya berasal dari kuasa dan kasih Kristus dalam diri kita.

Integritas: Jantung dari Pembaruan

Tidak ada kebangkitan tanpa perubahan karakter. Tidak ada peradilan yang agung tanpa integritas. Paskah berbicara tentang keteladanan Tuhan Yesus Kristus dalam kasih, pengorbanan, dan kebenaran. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi fondasi dalam setiap tindakan kita sebagai aparatur peradilan.

Rasul Paulus menulis di Roma 12:2, bahwa “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” Pembaharuan budi berarti bahwa kita bekerja bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi untuk menghadirkan keadilan, tidak sekadar mengikuti prosedur, tetapi memahami makna di baliknya, tidak hanya untuk menghindari kesalahan, tetapi aktif melakukan yang benar.

Integritas tidak bisa digantikan oleh sistem. Ia harus tumbuh dari dalam diri setiap individu.

Menghadirkan Kemanusiaan dalam Sistem

Tema Paskah 2026 menekankan adanya “pembaruan kemanusiaan”. Ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia peradilan Indonesia saat ini. Di balik setiap berkas perkara, ada manusia yang haus mencari keadilan, yang terluka, dan yang berharap hidupnya dipulihkan oleh putusan pengadilan. Digitalisasi tidak boleh membuat kita kehilangan sentuhan kemanusiaan. Justru sebaliknya, teknologi harus membantu kita menjadi lebih peka, cepat tanggap, dan bersikap adil tanpa diskriminasi.

Dari Paskah kita belajar bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menunjukkan teladan itu, sebagaimana Matius 25:40 “Apa pun yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Ayat ini sederhana, tetapi sangat dalam, di mana cita melayani masyarakat pencari keadilan, terutama yang lemah, menjadi cerminan dari nilai Kerajaan Allahyang kita pegang.

Kebangkitan dalam Tugas Sehari-hari

Seringkali kita berpikir bahwa perubahan besar harus dimulai dari kebijakan besar. Padahal, kebangkitan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya: melayani dengan sikap yang ramah, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan menjaga kejujuran dalam setiap keputusan, serta tidak menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini. Hal-hal kecil tersebut, jika dilakukan dengan konsisten, akan membawa perubahan besar.

Paskah tidak hanya dirayakan di gereja, dan tidak terbatas hanya di hari Paskah saja. Ia harus hidup dan diterapkan setiap hari dalam ruang kerja, ruang sidang, dan setiap saat ketika kita berinteraksi dengan masyarakat.

Penutup: Menjadi Bagian dari Pembaruan

Paskah adalah undangan. Undangan dari Tuhan Yesus Kristus bagi kita semua untuk meninggalkan cara lama dan hidup dalam pembaruan. Bagi aparatur peradilan, undangan itu berarti memperbarui cara berpikir, memperbarui cara bekerja dan memperbarui cara melayani.

Transformasi digital yang sedang berjalan adalah kesempatan besar bagi kita sebagai insan pengadilan. Namun tanpa pembaruan manusia, ia tidak akan mencapai tujuan sejatinya. Sebaliknya, jika kita mau berubah, dimulai dari dalam, maka setiap inovasi, setiap sistem, dan setiap kebijakan akan menjadi alat untuk menghadirkan keadilan yang benar-benar hidup.

Baca Juga: 15 Tahun Pengadilan Tipikor, Saatnya Bangkit untuk Keadilan Substantif

Akhirnya, mari kita pegang satu pengingat sederhana, bahwa kebangkitan Tuhan Yesus Kristus bukan hanya sekedar peristiwa keagamaan yang kita rayakan setiap tahun, namun adalah suatu perubahan yang kita jalani setiap hari. Selamat merayakan Paskah, kiranya kebangkitan Tuhan Yesus Kristus benar-benar membarui kita, dan melalui kita, akan membarui wajah peradilan Indonesia. Tuhan memberkati kita semua! (ldr/al)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…