Malam di lereng Puncak, Majenang, Cilacap, Jawa Tengah dahulu tak pernah benar-benar tertidur. Lampu-lampu remang dari bilik tembok menyala menghiasi dinginnya udara pegunungan. Dentuman musik-musik hiburan bersahutan mengiringi suara kendaraan Para Tamu yang datang silih berganti. Orang-orang mengenal kawasan itu sebagai salah satu kawasan prostitusi terbesar di Cilacap - tempat perjudian, minuman keras dan prostitusi yang bertahan selama puluhan tahun. Bisa dibilang, “Dolly” nya Kabupaten Cilacap.
Namun di tengah hingar bingar itu, ada pemandangan yang terasa ganjil. Di samping rumah bordil yang masih buka, beberapa orang duduk bersila menggelar pengajian. Suara lantunan Ayat Suci Al-Quran dan Doa-doa isthigatsah yang didengungkan bersama, perlahan menembus riuhnya musik malam. Seorang Kiai Muda bersama pengikutnya, memilih bertahan berdakwah dan mengaji di tempat yang bagi sebagian orang dihindari.
Kiai Muda itu adalah KH. Hizbulloh Huda, seorang Panitera Pengganti di Pengadilan Negeri Banjar. Tercatat, sebelumnya Ia juga sempat berdinas di Pengadilan Negeri Purwokerto.
Baca Juga: MA Peduli Gelar Bakti Sosial dan Medical Check Up Gratis di Ponpes LP3IA Narukan
Saat sebagian orang memilih melawan dengan kemarahan, Ia dan pengikutnya datang membawa kopi, pengajian dan kesabaran. Tak ada pengerahan massa. Tak ada pengusiran. Hanya pengajian kecil, yang berlangsung malam demi malam, hingga bertahun-tahun lamanya, hingga saat ini.
Tak disangka dari cara kecil yang konsisten ini, Kawasan Puncak ini mulai berubah. Rumah-rumah bordil itu satu per satu tutup. Para Preman dan Mucikari dahulu yang getol menjaga kawasan, perlahan berbalik badan membantu dakwah. Anak-anak yang dahulu tumbuh di tengah dunia malam, kini belajar mengaji di Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) pada pagi hari, dan mengaji TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran) dan Madrasah Diniyah di sore harinya, dari usia balita sampai dengan usia SMA sederajat, yang berdiri di lokasi yang sama.
Hari ini, di tempat dahulu yang dipenuhi hiburan malam, kini berdiri Masjid dan Madrasah tempat Anak-Anak belajar mengaji dan melantunkan Ayat Suci Al-Quran.
“Saya lupa sejak tahun berapa kawasan prostitusi itu berdiri Kawasan Puncak, Majenang, Cilacap. PSK nya ada yang berasal dari Banjar dan Ciamis Jawa Barat. Pelanggannya pun mulai dari strata rakyat biasa hingga pejabat, ada yang dari Bandung sampai Jakarta juga,” ucap Supriyanto, Pria yang dahulunya Konsumen, Pemback-Up, Penjudi dan Peminum di Kawasan Prostitusi tersebut.
“Ada sekitar 13 rumah bordil, dengan jumlah PSK mencapai sekitar 70 orang,” tambahnya.
Ia menceritakan, perjuangan Gus Huda (Sapaan Akrab KH. Hizbulloh Huda) bersama rekan-rekannya mengubah kawasan prostitusi tersebut, telah dimulai sejak 2010. “Dari beberapa generasi sebelumnya, telah ada perjuangan untuk mengubah kawasan prostitusi ini, namun belum berhasil. Preman-preman disana tetap bersikukuh mempertahankan kawasan. Jadi, malamnya bubar, besoknya buka lagi,” kenangnya kepada Tim Dandapala, melalui sambungan telpon, Rabu (27/05/2026).
“Awalnya, ada mucikari yang mendatangi Saya. Ia merasa sudah bosan dan jenuh dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya. Ia kemudian meminta Saya agar difasilitasi di kawasan tersebut, diubah menjadi kawasan yang lebih baik. Bahkan, Ia akan pasang badan membela saya apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan menimpa Saya,” timpal Gus Huda dalam percakapan bersama Dandapala.
Lebih lanjut, Supriyanto menceritakan banyaknya tantangan saat membersamai perjuangan Gus Huda. Sebelumnya, kerap terjadi perseteruan dari warga yang pro mendukung perubahan kawasan dan kontra perubahan, dikarenakan khawatir kehilangan nafkah dari situ. “Pembubaran rumah bordil sampai 3 kali, dan pernah sampai terjadi pembakaran pintu rumah bordir disana,” cerita Supriyanto yang kini menjabat selaku Ketua Komite Madrasah Ibditaiyah Al-Mahdy, sekaligus Koordinator Isthigotsah “Asyieq” Illallah Al-Mahdy.
Supriyanto menerangkan pendekatan dakwah yang dilakukan Gus Huda dan para jamaahnya berbeda dari pendahulunya. “Kita bersama Gus Huda tetap pelan-pelan berdakwah disana, sambil mengopi bersama, dengan materi yang ringan dahulu. Membuka pengajian disitu, meskipun di sekelilingnya rumah-rumah bordil tersebut masih buka,” ungkapnya.
“Pernah sempat ada Pengajian Akbar yang akan diselenggarakan disana, dengan mengundang Kiai Besar dari Tasikmalaya. Saat itu sempat dari kalangan masyarakat ingin melakukan sweeping di kawasan tersebut. Justru, Gus Huda yang menghubungi pihak Kepala Dusun agar sweeping tak perlu dilakukan,” imbuhnya.
Gus Huda beralasan apabila dilakukan sweeping akan menimbulkan gesekan di antara masyarakat. Kemudian, akan menimbulkan ketidaknyamanan atas dakwah yang dilakukannya di kawasan tersebut. Sehingga Ia menghubungi pihak tokoh masyarakat agar pengajian tetap berlangsung, tetapi sweeping tidak perlu dilakukan. “Pihak Mucikari dan PSK berterima kasih, malah mengatakan baru kali ini ada Kiai yang membela Kami,” ungkapnya.

Keterangan: Prosesi pembangunan Madrasah di Kawasan Lokalisasi
“Penuh tantangan, menguras tenaga, pikiran, mental, dan kantong saat membersamai perjuangan ini. Tantangan juga terkadang datang dari para isteri, yang menaruh curiga kepada kita yang sedang berjuang berdakwah disitu, karena stigmanya kita berdakwah di kawasan prostitusi,” kata Supriyanto.
Gus Huda menuturkan kemudian dukungan dakwahnya pun mulai mengalir, mulai dari Para Tokoh Masyarakat, Masyarakat, Para Mucikari dan PSK yang berbalik badan, hingga di kalangan Peradilan. “Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto saat itu Bapak Aminal Umam sangat mendukung perjuangan Saya. Ia rutin menyisihkan rezekinya setiap bulannya kepada Kami, bahkan hingga terakhir Ia bertugas di Badan Pengawasan MA,” kenang KH. Hizbulloh Huda, yang juga merupakan Anak Kiai ini. Satu demi satu sak semen dan tumpukan batu bata merah pun silih bergantian berdatangan, untuk pembangunan Masjid dan Madrasah di Kawasan ini.
“Alhamdulillah perjuangan ini juga mendapatkan perhatian dari Pimpinan MA dan Badilum, rekan-rekan dari PN Purwokerto, Pimpinan PN Banjar dan seluruh aparatur PN Banjar,” imbuhnya.

Keterangan: Kawasan Lokalisasi Lereng Gunung Cilacap Kini Berubah Jadi Kawasan Masjid dan Madrasah
Di tengah profesinya sebagai panitera pengganti, Ia juga menuturkan pentingnya disiplin membagi waktu. Sebab, siang harinya Ia bertugas sebagai Panitera Pengganti Pengadilan dan malam hari hingga pagi harinya, digunakan untuk berdakwah.
Gus Huda menjelaskan tak bolehnya memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang banyak distempel buruk oleh orang lain. “Mungkin saja Ia melakukan hal tersebut, karena kebutuhan mendesak untuk penghidupannya. Bisa saja karena kemaksiatannya itu kemudian melahirkan pertaubatan nasuha dan taubatnya diterima Allah SWT, sehingga Ia termasuk menjadi orang-orang yang diridhai Allah SWT,” ungkapnya.
Akhirnya, tepat pada 4 tahun silam, dakwahnya pun membuahkan hasil. Kawasan Puncak Majenang tersebut kini telah benar-benar berubah. Dari kawasan prostitusi, kini menjadi Kampung Santri, dimana berdiri Madrasah Ibtidaiyah yang beroperasi pada pagi hari dan Taman Pendidikan Al-Quran serta Madrasah Diniyah pada sore hari. Dengan jumlah murid mencapai sekitar 425 anak. Di samping itu, di Kawasan tersebut juga telah berdiri sebuah masjid besar.
Baca Juga: Jalankan Program MA Peduli, PN Mempawah Gelar Bakti Sosial di Pondok Pesantren
Di akhir percakapannya dengan Dandapala, bertetapan dengan Hari Raya Idul Adha 1447 H, Gus Huda mengutip Sabda dari Rasullullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Artinya, kita harus menjadi orang yang bermafaat, termasuk rela berkorban dengan hati yang ikhlas, untuk mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya kepada umat manusia.
Selamat hari Raya Idul Adha 1447 H! (ans/rs/zm/fac)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI