Makassar — Atmosfer ruang sidang Pengadilan Negeri Makassar Kelas I A Khusus pada 7–8 Februari 2026 tampak berbeda dari biasanya. Kali ini, yang berdiri di hadapan majelis bukan para advokat profesional, melainkan mahasiswa hukum dari berbagai penjuru Indonesia yang tengah berkompetisi dalam National Moot Court Competition (NMCC) ALSA Piala Mahkamah Agung XXVI.
Setelah vakum selama dua tahun, ajang peradilan semu tertua dan paling prestisius di Indonesia tersebut kembali digelar dengan Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah. Sebanyak 17 tim dari perguruan tinggi ternama turut ambil bagian, menampilkan argumentasi hukum, penyusunan berkas perkara, hingga teknik persidangan yang mencerminkan standar praktik peradilan sesungguhnya.
Hakim Pengadilan Negeri Makassar Bapak Johnicol Richard Frans Sine dalam wawancara dengan tim dandapala menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kembali kompetisi ini di lingkungan satuan kerja peradilan. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter dan integritas calon penegak hukum.
Baca Juga: PN Makassar Sosialisasikan Layanan Pengadilan ke Pemkot dan APH
“Kompetisi ini bukan sekadar perlombaan, melainkan ruang pembelajaran yang konkret bagi mahasiswa untuk memahami proses peradilan secara utuh. Kami berharap pengalaman ini menanamkan nilai profesionalisme, etika, dan tanggung jawab dalam diri para peserta sebagai calon insan peradilan,” ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan, para peserta diuji oleh dewan juri yang terdiri atas hakim, akademisi, dan praktisi hukum. Setiap tim dituntut mampu membangun konstruksi hukum yang logis, sistematis, serta menyampaikannya secara persuasif dalam forum persidangan.
Dinamika persidangan berlangsung kompetitif, namun tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Penyelenggaraan NMCC ALSA Piala Mahkamah Agung XXVI juga menjadi wujud sinergi antara lembaga peradilan dan institusi pendidikan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang hukum.
Lingkungan pengadilan yang autentik memberikan pengalaman empiris bagi mahasiswa untuk memahami standar etik dan teknis praktik persidangan.
Berdasarkan hasil akhir penilaian, Universitas Padjadjaran berhasil meraih Juara I, disusul Universitas Jember sebagai Juara II, dan Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai Juara III. Capaian tersebut mencerminkan kualitas persiapan dan kedalaman analisis hukum para peserta.
Baca Juga: Jalan Sehat Bersama IKAHI Makassar Dalam Rangka HUT ke-72
Kembalinya NMCC ALSA Piala Mahkamah Agung menjadi simbol bangkitnya kembali tradisi akademik yang mendorong lahirnya generasi hukum yang unggul dan berintegritas. Bagi dunia peradilan, kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam menyiapkan calon-calon penegak hukum yang memahami nilai keadilan sejak di bangku kuliah.
Melalui kegiatan seperti ini, harapan akan terwujudnya peradilan yang agung tidak hanya menjadi visi kelembagaan, tetapi juga tumbuh sebagai kesadaran kolektif generasi penerus bangsa. (Jarmoko/al/ldr)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI