Palembang - Meski sudah lewat beberapa hari, suasana hari raya lebaran masih sangat terasa. Jika pada hari pertama setiap tuan rumah masih disibukkan dengan kunjungan keluarga inti, maka di hari-hari berikutnya biasanya kunjungan ke kerabat terdekat menjadi tujuan.
Ragam kuliner khas yang disajikan di masing-masing rumah menjadi hal yang berkesan dalam setiap kunjungan. Di Palembang, salah satu kudapan terkenal yang tidak pernah absen dihadirkan dalam perayaan lebaran adalah Kue delapan Jam.
Kue basah khas ibu kota Sumatera Selatan ini, mempunyai ciri-ciri berwarna coklat kekuningan dengan pori–pori kecil yang tampak pada tiap potongannya. Teksturnya lembut dan sedikit kenyal dengan rasa manis yang legit.
Dahulu kue delapan jam hanya bisa dinikmati oleh masyarakat kelas atas saja. Konon meskipun sederhana tapi bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat kue ini cukup mahal. Bahan bakunya sendiri terdiri dari telur, margarin, kental manis, dan gula. Namun jumlah telur yang dibutuhkan setidaknya haruslah 20 butir. Di mana telur tergolong bahan yang cukup mahal pada zaman dahulu dan menjadi pilihan utama untuk lauk pauk masyarakat menengah ke bawah.
Saat ini, hampir semua lapisan masyarakat sudah bisa menikmati kue delapan jam. Bahan-bahannya juga sudah sangat mudah untuk didapatkan. Kue delapan jam kerap menjadi bintang utama ketika hari besar atau perayaan tertentu. Jika berkesempatan datang ke Palembang ketika bulan puasa atau Idul Fitri, sebagian besar rumah akan menyediakan kudapan ini.
Dibalik citarasanya yang manis, ada makna filosofis dibalik kue legendaris yang termasuk sebagai warisan budaya Sumatera Selatan ini. Nilai tersebut tersirat pada penamaannya. Dikutip dari sejarawan Palembang, hal ini berkaitan dengan pembagian waktu dalam hidup. Di mana dalam 24 jam waktu sehari, setidaknya kita harus membaginya dengan 3 kegiatan yang berbeda selama 8 jam, yaitu 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirahat, dan 8 jam untuk beribadah.
Dari sisi proses pembuatannya yang memakan waktu berjam-jam, kue delapan jam memiliki arti bahwa kehidupan harus dijalani dengan sabar sebelum mencapai tujuan. Jika ada yang mencoba mengukus kue ini dengan waktu kurang dari 8 jam, cita rasanya tidak akan maksimal, serta kue pun akan menjadi lembek dan tak berpori.
Angka 8 juga melambangkan jumlah orang yang mengangkat keranda kita ketika tutup usia nanti. Artinya, kita harus ingat bahwa hidup di dunia hanya sementara. Bila berkesempatan berkunjung ke Palembang, jangan lupa untuk mencicipi kelezatan kue ini. (AL)
Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp Ganis Badilum MA RI: Ganis Badilum