Cari Berita

Meneladani Qu Yuan: Integritas Tanpa Kompromi dari Kisah Hari Bakcang

Nora - Dandapala Contributor 2026-06-19 08:00:09
Dok. Istw

Setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 kalender lunar (yang tahun ini jatuh pada tanggal 19 Juni 2026), aroma harum daun bambu yang membungkus bakcang selalu membawa kita kembali pada sebuah kisah klasik tentang prinsip hidup yang kokoh. Bakcang adalah makanan yang terbuat dari beras ketan yang diisi dengan beragam isian dan dibungkus dengan daun bambu kemudian diikat dengan tali sehingga membentuk 4 (empat) sisi lancip. Hari Raya Bakcang atau lebih dikenal sebagai Festival Peh Cun (duan wu jie), sejatinya bukan sekedar perayaan kuliner. Dibalik gurihnya beras ketan yang dibungkus rapi, ada warisan kisah tentang seorang manusia yang memilih mati demi menjaga integritasnya: Qu Yuan.

Qu Yuan adalah seorang menteri, penyair, sekaligus diplomat ulung di Negara Chu pada Zaman Negara-Negara Berperang (340 – 278 SM) di Tiongkok Kuno. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas, setia kepada negaranya dan memiliki visi yang bersih. Ia adalah pribadi yang selalu berusaha memberikan pandangan terbaik, objektif, dan tulus demi kemajuan bersama.

Sayangnya, lingkungan istana tempatnya mengabdi telah digerogoti oleh korupsi, nepotisme dan intrik politik. Para Menteri korup yang merasa terancam oleh kejujuran Qu Yuan mulai menghasut raja. Akibatnya, nasihat-nasihat objektif Qu Yuan diabaikan, dan ia justru diasingkan dari ibukota. 

Baca Juga: Tiga Lukisan J.J de Nijs, Pengingat Pentingnya Menegakan Keadilan

Meskipun berada dalam pengasingan dan menyaksikan negaranya perlahan runtuh karena salah urus dan korupsi, Qu Yuan menolak untuk ikut arus. Ia menolak untuk berkompromi dengan kejahatan. Ketika ibu kota Chu akhirnya jatuh ke tangan musuh akibat pengkhianatan internal, Qu Yuan yang didera kesedihan mendalam memilih untuk menenggalamkan diri di Sungai Miluo sebagai bentuk kesetiaan dan kesucian jiwanya.

Masyarakat yang menghormati Qu Yuan berbondong-bondong mendayung perahu (yang menjadi asal-usul lomba perahu naga) dan melemparkan bungkusan nasi ketan ke dalam sungai agar ikan-ikan tidak memakan jasad sang menteri. Bungkusan nasi itulah yang kita kenal saat ini dengan nama Bakcang.

Kisah Qu Yuan ribuan tahun lalu masih sangat relevan jika kita tarik ke dalam konteks modern saat ini khususnya di lingkungan profesi kita. Kisah klasik ini sejatinya menjadi cermin yang teduh bagi kita semua yang berkarya di dunia profesional. Meneladani Qu Yuan di tempat kerja berarti berani menghidupkan kembali nilai-nilai luhur: menjaga amanah dan kepercayaan, tidak berkompromi terhadap pelanggaran, menjaga kejujuran dalam pengambilan keputusan, dan menjaga integritas sampai akhir hayat. 

Baca Juga: Tebar Teladan Rasulullah, PN Maros Sulsel Rayakan Maulid Nabi

Memaknai Hari Bakcang adalah momen refleksi untuk menengok kembali ke dalam diri kita masing-masing. Integritas bukanlah tentang menilai kekurangan orang lain, melainkan tentang bagaimana kita secara konsisten menjaga komitmen pribadi terhadap tugas dan tanggung jawab.

Mari kita jadikan semangat Hari Bakcang ini sebagai pengingat manis untuk terus merawat kejujuran, menjaga keharmonisan, dan meningkatkan integritas di ruang kerja kita. Dengan lingkungan yang bersih, tulus dan saling menghormati, kita tidak hanya memberikan yang terbaik bagi instansi, tetapi juga menanam kebaikan untuk masa depan kita bersama. 端午节快乐!(AL)

Untuk Mendapatkan Berita Terbaru Dandapala Follow Channel WhatsApp : Info Badilum MA RI

Memuat komentar…